• Bahasa menunjukkan bagaimana seseorang lahir, tumbuh dan berkembang

Begitu kayanya Indonesia hingga bukan hanya budaya dan adat istiadatnya saja yang beraneka ragam. Dari Sabang sampai Merauke menjadi saksi begitu warna-warninya Indonesia hingga mendapat julukan Zamrud Khatulistiwa. Keanekaragaman ini pun termasuk soal bahasa daerah dimana setiap daerah memiliki bahasa dengan dialek dan logat yang bahkan mencapai ratusan julahnya. Bagaimana agar warga di setiap wilayah Indonesia dapat berkomunikasi walau berbeda-beda suku dan bahasa daerah?

Bahasa Indonesia. Ya, bahasa pemersatu bangsa ini lahir karena begitu ragamnya masyarakat Indonesia yang tentunya harus dipersatukan dan diikat dengan satu bahasa. Seiring perkembangan zaman dimana teknologi berkembang begitu pesatnya, bahkan hingga ke pelosok wilayah lintas pulau. Budaya luar negeri masuk begitu cepatnya ke rumah warga, tanpa permisi mengetuk pintu mereka masuk melalui media sosial. Budaya Barat datang melalui film-film, acara festival, aplikasi yang begitu mudahnya diinstal di gawai, hingga lagu-lagu yang digandrungi generasi milenial. Tidak hanya itu, serbuan budaya luar pun datang dari negeri gingseng, yaitu Korea Selatan. K-Pop, drama Korea, grup-grup penyanyi beranggotakan laki-laki namun “cantik” seperti BTS atau grup-grup penyanyi wanita seperti Black Pink, ternyata begitu mudahnya menghipnotis masyarakat. Siapa yang paling fatal terkena dampaknya?

Generasi milenial, anak-anak muda usia sekolah dan kuliah yang mendadak begitu hafalnya semua kisah hidup dan perjalanan karir, bahkan lirik lagu berbahasa Inggris dan Korea hafal di luar kepala. Bangga? Jelas dong, lah wong bisa hafal dan menjadi bagian dari keluarga besar K-Pop dan Hollywood adalah satu prestasi karena menjadi persyaratan untuk diakui sebagai anak milenial yang modern dan up to date. Namun sisi mana yang paling terkena dampaknya? BAHASA. Ya, bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional mulai tergerus keasliannya di kalangan masyarakat. Tak jarang di ruang publik kita banyak menemukan anak-anak muda berkomunikasi dengan bahasa gado-gado, setengah Indonesia setengah Inggris dengan gaya kebarat-baratan. Banyak mendapat informasi terbaru dari media sosial juga mempengaruhi gaya bahasa mereka. Tidak kurang gagap bahasa ini pun menghampiri para penjabat, publik figur, atau masyarakat awam yang ingin terlihat intelek, bahkan ketika memberikan pidato di depan publik bahasa asing sering diselipkan sebagai pemanis. Bangga mencampuradukkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing sedikit banyak membuat bahasa Indonesia sebagai bahasa negara terkikis keanggunannya. Orang lebih bangga bisa berbahasa asing daripada menggunakan bahasa Indoensia dengan kaidah yang baik dan benar. Kata mereka sih, “ Bahasa asing lebih keren

Namun, mengarahkan jari telunjuk dan menimpakan kesalahan pada masyarakat saja tentu kurang bijak. Masyarakat dibombardir dengan informasi dan budaya asing yang tak henti-hentinya di tengah perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya. Tidak semua orang memiliki jaring pengaman bagaimana seharusnya mereka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik. Selain karena faktor logat daerah asal, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia di ruang publik pun lebih banyak disebarkan melalui komunikasi informal. Bahasa Indonesia di ruang publik hanya bisa ditaati ketika ada di ruang sidang, rapat dengar pendapat, atau acara-acara dengan nuansa formal.  Sisanya bahasa bercampur aduk asalkan lawan bicara asyik dan mengerti, ya monggo saja dengan penggunaan bahasa yang campur aduk.

Padahal sebagai warga negara yang baik dan cinta akan negeri, sudah seharusnya kita lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik untuk menghindari salah paham pada lawan bicara. Tak jarang karena dua orang atau lebih berbicara dengan bahasa daerah atau asing dimana orang-orang sekitarnya kurang memahami bahasa tersebut, maka timbul prasangka tentang isi pembicaraan yang dirasa seperti sedang membicarakan orang lain. Tak jarang pula penggunaan bahasa daerah atau asing yang awalnya demi gengsi dan demi dihormati orang lain malah justru menjerumuskan karena sering disalahtafsirkan.

Namun, tak baik pula saling menyalahkan tanpa memberikan solusi. Baiknya tetap gunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara di ruang publik demi kebanggaan dan kenyamanan pada lawan bicara. Jika ada orang atau anak muda lebih banyak menggunakan bahasa gado-gado di ruang publik, baiknya diingatkan dan diarahkan untuk bangga berbahasa Indoensia. Bagaimana sikap orang dan bangsa lain terhadap kita salah satunya dinilai bagaimana sikap kita terhadap bahasa negara kita sendiri. Salah satu sikap dan jiwa patriotisme salah satunay ditumbuhkan lewat penggunaan bahasa negara di ruang publik, dimanapun dan kapanpun. Karena jika bukan kita siapa lagi yang akan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kebanggaan negara ini, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here