“Berawal dari Oriental Ciscus Indonesia, kami memelihara satwa yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan dengan kasih sayang. Melaui karunia dan berkat-Nya pula, satwa-satwa itu berhasil berkembang biak dengan baik. Hal ini yang kemudian membuat kami berfikir untuk melestarikan mereka dalam satu kawasan alam yang pada akhirnya dikenal dengan Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia yang berada di Cisarua, Bogor”

Penuturan Bapak Jensen Manansang menjadi inti dari Peluncuran buku ” Tiga Macan Safari : Kisah Sirkus Ngamen Sebelum Permanen” yang diadakan di Jakarta Aquarium, Mal Neo Soho, Jakarta Barat pada Sabtu, 14 Desember 2019. Kita mengenal Taman Safari sebagai kebun binatang terbesar dan terlengkap di Indonesia, tapi tak banyak masyarakat yang tahu bagaimana cintanya keluarga besar Oriental Oriental pada binatang dan jatuh bangunnya mereka selama 35 tahun.

Buku “Tiga Taman Safari”

Tim penulis buku ini memerlukan waktu yang panjang untuk menyelesaikannya. Riset, wawancara dengan keluarga besar Oriental Circus, dimana banyak anggota yang sudah meninggal sehingga tim penulis perlu menggali lebih dalam melalui berbagai cara. Kisah perjuangan dalam hidup dan bisnis selalu menarik untuk dibukukan karena mengandung berjita hikmah yang dapat diambilmanfaatnya untuk pembaca. Tiga Macan Safari menceritakan sepak terjang Hadi Manansang dan tiga putranya, yaitu Jansen Manansang, Frans Manansang, dan Tony Sumampau membangun dan membesarkan Taman Safari Indonesia. Buku tidak hanya berisi tulisan perjalanan, namun suguhan foto-foto lama semakin menegaskan bagaimana keluarga Hadi tidak main-main dalam berbisnis sekaligus konservasi binatang.

Sejarah Taman Safari

Tonggak sejarah Taman Safari dimulai pada tahun 1950-an, dimana Hadi dan anak-anaknya mulai dari nol mengamen di berbagai tempat mulai dari alun-alun, kelenteng, sekolah, hingga perkumpulan Tionghoa. Saat itu atraksi hanya berupa atraksi salto dan kelihaian bermain Trisula ( tombak bermata tiga). Melihat peluang, Hadi juga menjual obat koyok hasil ramuan sendiri. Tahun 1963-1964 lahirlah Bintang Akrobat dna Gadis Plastik, tiga tahun kemudian Oriental Show hadir, namun pada 1972 berganti nama menjadi Oriental Circus Indonesia. Apakah waktu itu Hadi sudah bekerja dengan tim yang profesional? Tentu tidak. Semua pekerjaan mulai dari melatih satwa, mengangkat alat, menjadi pemain sirkus, menjahit tenda, konsumsi, sampai mengurus perizinan semua mereka lakukan sendiri. Namun, karena satwa bertambah banyak ditambah kecintaannya yang luar biasa, akhirnya Hadi memutuskan untuk mengelola Oriental Circus secara profesional.

Kini, 50 tahun sudah Taman Safari berdiri dengan gagah dan mengembangkan sayap pada lini bisnis lain, seperti Taman Safari II di Pringen, Jawa Timur, Batang Dolphin Center, Bali Safari & Marine Park di Gianyar, dan Jakarta Aquarium Selain menjadi tempat tujuan wisata alternatif wisatawan nasional dan internasional, Taman Safari Indonesia juga membidik celah sebagai sarana pendidikan dan penelitian dengan fokus di bidang konservasi satwa liar. Taman Safari pun turut membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dan para ahli bidang akademis lainnya karena Taman Safari bisa kita analogikan sebagai satu kolam yang penuh dengan ikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here