Pembukaan Penyusunan Ensiklopedia Pernikahan

Penghulu merupakan jabatan fungsional, dimana seorang pejabat fungsional sudah seharusnya bekerja dengan professional dan memiliki basis ilmu pengetahuan yang mumpuni. Hal ini disampaikan oleh Direktur Bina Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah, Ditjen Bitmas Islam Muharram Marzuki, Ph.D  pada gelaran kegiatan penyusunan Ensiklopedia Pernikahan. Kegiatan bertajuk “Penguatan Sinergitas Kelembagaan Bimbingan Perkawinan” yang dihelat pada 9-11 November 2020 di Bandung, Jawa Barat tersebut termasuk membahas mengenai rancangan Ensiklopedia Pernikahan yang telah disusun oleh tim dan melibatkan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia atau APRI.

Menurut Direktur Bina KUA, Ditjen Bimas Islam, Muharram Marzuki, Ph.D, dengan adanya Ensiklopedia Pernikahan ini maka akan membantu para penghulu untuk dapat bekerja dengan lebih professional. “Dengan adanya Ensiklopedia Pernikahan ini, akan membantu profesionalitas penghulu dalam bertugas,” ucapnya.

Lebih lanjut dengan adanya Ensiklopedia Pernikahan ini akan sejalan dengan rencana Ditjen Bimas Islam untuk membuat modul pengangkatan Kapasitas Penghulu. Eks Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag ini juga berharap Ensiklopedia Pernikahan dapat terwujud dan siap dicetak untuk diedarkan di seluruh Indonesia. “Namun jika tidak bisa terlaksana tahun ini, minimal sudah ada dalam bentuk Dummy,” tukasnya.

Pada kesempatan ini Muharram juga menyinggung terkait isi dari Ensiklopedia Pernikahan itu sendiri. Mantan Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana Sekretariat Jendral Kemenag ini menjelaskan bahwa Ensiklopedia yang sedang disusun ini bukanlah seperti Ensiklopedia KUA sebagaimana rencana awal, melainkan Ensiklopedia Pernikahan.

Berbeda dengan Ensiklopedia pada umumnya yang berisi istilah, penjelasan singkat ataupun definisi. Ensiklopedia Pernikahan akan berisi terminologi-terminologi yang dijelaskan lebih detail dan komprehensif.

“Harus bedakan antara definisi kata, frasa, dan klausa, dengan penjelasan. Ensiklopedia berisi penjelasan dari istilah-istilah yang memang banyak acuannya,” sebutnya dalam pembukaan acara.

Metode ini digunakan untuk memasukkan istilah dalam Ensiklopedia Pernikahan sehingga setiap istilah yang masuk akan memiliki ulasan lebih lengkap disertai dengan berbagai contoh penggunaan, tujuannya agar dalam Ensiklopedia Pernikahan menyajikan informasi yang lebih mudah dipahami dan lebih komprehensif.

Peserta

Kedepannya, masih menurut Muharram selain menjadi salah satu referensi bagi masyarakat yang membutuhkan informasi tentang pernikahan, Ensiklopedia Pernikahan juga bisa menjadi penunjang profesionalitas penghulu. Pria yang menyelesaikan pendidikan master dan doktor di India ini juga menegaskan bahwa Ensiklopedia Pernikahan tidak hanya akan dipakai oleh kalangan Kemenag saja tetapi bisa juga diperuntukkan bagi masyarakat yang lebih luas.

“Jadi nanti Ensiklopedia Pernikahan ini betul-betul berguna baik bagi masyarakat umum, maupun para peneliti untuk penulisan skripsi, tesis dan disertasi, serta keperluan lainnya,” tegasnya.

Jadi selama ini banyak istilah-istilah dalam pernikahan dan berserakan di sana-sini. Sayangnya istilah tersebut hanya dipahami dan diketahui oleh orang-orang di kalangan pejabat teknis dan penghulu saja. Banyak masyarakat awam yang tidak mengerti istilah-istilah yang umum diketahui masyarakat beberapa diantaranya adalah, akad nikah, bimbingan pernikahan, cerai mati, cerai hidup, besan, calon mempelai dan sebagainya. Namun walau akrab di telinga, masih banyak masyarakat yang kesulitan mendefinisikannya atau jika ada definisi tertentu masih simpang siur dan tidak ada satu acuan yang bisa dijadikan pedoman.

Kendala tersebut yang mendorong agar penyusunan Ensiklopedia Pernikahan dapat segara dituntaskan agar mendorong masyarakat luas dapat lebih memahami terkait pernikahan, serta menjadi acuan bagi para penghulu meningkatkan profesionalitas dan kinerjanya di masa yang akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here