Busana muslim bukan hanya sekedar busana untuk menutup aurat semata. Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tingginya kesadaran menutup aurat sesuai tuntutan agama, muslimah semakin peduli pada model dan jenis pakaian. Dan The Most menangkap ceruk pasar khusus middle up dengan target market muslimah perkantoran, pebisnis dan ibu sosialita. Dengan jenis bahan khusus dan hiasan swarovski, The Most mematok harga dress Rp 700.000 – Rp 1.150.000 dan Outer Rp 720.000 – Rp 815.000. Sedangkan size XL ke atas hanya menambah @100 – 150 ribu/pcs dengan waktu pemesanan 1 minggu.

Jika Anda ingin memesan atau berkonsultasi terkait desain The Most, silakan hubungi beliau di WA : 085887677009, IG @themost_hijabpassion atau @hikmawatirasyid dan www.themostmima.com

Berikut wawancara singkat kru Litegrafi dengan Hikmawati Rasyid, pemilik sekaligus desainer The Most.

1. Ada sejarah pemilihan nama brand?
Sejak awal sudah terfikir untuk go international, maka brand yang dipilih pun dalam bahasa international dalam hal ini adalah bahasa Inggris. Pemilihan THE MOST yang artinya yang terbaik adalah semacam doa untuk selalu menjadi yang terbaik. Entah kenapa saat itu terfikir bahwa wanita yang memakai koleksi kami akan menjadi The Most beauty, The Most perfect dan doa-doa serta harapan-harapan terbaik lainnya. Alhamdulillah ternyata lafal pengucapannya termasuk sangat mudah dan gampang diingat.


2. Apa latar belakang hingga terjun jadi desainer baju muslim?
Menjadi desainer adalah mimpi lama Saya, bahkan teman-teman dekat ketika SD sd SMP serta kerabat dekat pasti tahu kalau sejak kecil dulu Saya suka gambar desain-desain baju yang kemudian ditempel di belakang pintu kamar. Sejak SMA dan masa kuliah Saya harus memupuskan semuanya untuk dijadikan mimpi dan sumber penghasilan, biayanya lumayan besar dan Alm Ibu Saya bilang kalau jadi desainer itu belum ada jaminan bisa bikin hidup mapan, gimana mau bahagiakan Ibu kalau tidak hidup mapan? Itu yang terfikir saat itu. Tapi cita-cita pertama ternyata tidak pernah padam. Setelah 15 tahun bekerja sebagai karyawan di perusahaan asing, saya memutuskan berhenti bekerja demi fokus ke anak-anak dan ternyata disitulah momen Saya kembali membangun mimpi lamq itu. Saya pilih busana muslim tentu saja karena Saya berhijab dan kebetulqn saat itu baru sekitar 2 tahun berhijab Saya suka pakain dari bahan katun yang nyamqn dan simpel — yang saat itu di tahun 2015 belum terlalu banyak yang bermain di bahan katun premium. Saya nekad bikin butik hanya dalam hitungan minggu dan selesai semua konsep dan butiknya dalam 2 bulan (termasuk persiapan proses produksi). Bismillah hingga akhirnya berlanjut dan bertahan hingga sekarang.


3. Selama berbisnis adakah pengalaman yg menyenangkan dan menyedihkan?


Menyenangkan tentu saja ketika pelanggan menyukai koleksi-koleksi Saya, hingga repeat order atau mengajak temannya untuk jadi pelanggan juga. Pun ketika jerih payah dan usaha ini diapresiasi dengan beberapa penghargaan seperti digandeng penerbit buku , tabloid maupun majalah untuk menjadi narasumber. Menyedihkan ketika ada kendala produksi yang makan waktu lebih lama dari target sebelumnya, ketika membeli bahan yang salah atau karyawan yang tidak amanah dalam laporan penjualan. Apapun itu Saya selalu anggap sebagai proses pembelajaran untuk selalu menjadi lebih baik dan bermanfaat ke depannya. Pengalaman adalah guru yang paling baik.


4. Pernah rugi?


Iya ketika karyawan tidak amanah dalam laporan keuangan, pernah juga karyawan tertipu dengan orang yang mengaku diminta oleh Saya untuk mengambil beberapa stok padahal tidak. Kerugian lainnya sebenarnya hanya dalam hal terhambatnya _cashflow_ karena keluarnya barang tidak lancar, walau pun akhirnya habis juga tapi memakan waktu lebih lama seperti ketika proses tutupnya lokasi butik lama dan pindah ke butik baru yang lumayan makan waktu dan membuat penjualan menjadi tidak produktif di saat itu.


5. Bisa ceritakan kenapa timbul ide desain glow in the dark?


Ide itu muncul spontan ketika Saya terfikir untuk memilih warna gelap yang mewah dan elegan untuk tema Bekasi Fashion Week 2019_ sekaligus tema Hari Raya Iedul Fitri tahun ini. Realisasi ide tersebut berjalan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan matang, pun ketika memutuskan memilih taburan batu swarovski untuk Glow-nya. Ide Glow in The Dark ini juga seperti simbolis kondisi butik yang sempat vakum dalam 6 bulan terakhir karena transisi pindah lokasi butik dan beberapa persiapan konsep desain baru yang diumpamakan Dark, dan gong dimulainya keluar lagi desain baru dalam ajang Bekasi Fashion Week pada 25-28 April 2019 yang lalu hingga pembukaan butik barunya ibarat new Glow bagi The Most, sehingga keluarlah kalimat Glow in The Dark.


*Wawancara singkat bersama Hikmawati Arsyid, desainer brand The Most.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here