Antologi Puisi Kong Kwang-kyu

         Seni adalah keindahan. Puisi adalah kehidupan. Agaknya puisi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Korea karena begitu lekat dan menjadi gambaran kehidupan masyarakat sejak zaman Dinasti Joseon. Dan Kong Kwang-kyu adalah penyair kenamaan di Korea di era modern. Peraih penghargaan Literatur Silla ini menerbitkan antologi puisinya dalam bahasa Indonesia dengan judul “Pesan Sang Mentari” terbitan Grasindo. Peluncuran buku puisi ini dilaksanakan di Ruang Apung Perpustakaan UI pada tanggal 22 Oktober 2019. Jujur inilah pertama kalinya saya bersentuhan langsung dengan buku terkait Korea. Selama ini saya mendapat informasi tentang Korea justru dari drama Korea dan Kpop yang saya tonton di www.viu.com. Ketika mendapat undangan dari Gramedia saya senang karena setidaknya saya tahu langsung apa dan bagaimana puisi karya penyair Korea dan seluk beluknya. Hadir menjadi narasumber adalah Joko Pinurbo (penyair dan penulis), Ibnu Wahyudi (penyair dan pengajar), serta Suh Mi Sook ( Ketua Asosiasi Penyair Korea di Indonesia).

Pesan Sang Mentari

“Pesan Sang Mentari”di mata Joko Pinurbo

         Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang kaya akan keindahan alamnya. Akan tetapi beberapa tahun ini kita punya masalah berkaitan dengan hubungan antara manusia dan alam. Alam di Indonesia sudah memasuki masa kritis karena benar benar mengalami eksploitasi yang luar biasa sehingga tidak lagi dianggap sebagai mahluk ciptaaan Tuhan. Nah, di dalam puisi-puisi ciptaan Kong ini kita merasakan betapa alam dan manusia itu menyatu dan tidak dapat dipisahkan. Sehingga ketika membaca puisi ini kita akan merasa ternyata memang benar bahwa kita yang mengaku orang-orang religius ini tetapi sebenarnya religius kita dengan alam itu sebenarnya sudah banyak merosot. Kita tidak punya lagi hubungan cinta kasih dengan alam, dan puisi Mr. Kong ini menyajikan deskripsi yang begitu lembut sehingga kita termotivasi memulihkan kembali hubungan kita dengan  alam. Keistimewaan Mr.Kong sebagai penyair yaitu dia mampu mendeskripsikan suasan alam, perilaku alam dan binatang secara mendetil.

         Penyair Joko Pinurbo mengakui bahwa belum ada penyair Indonesia yang bisa dipadankan dengan Kong, terkecuali penyair Aceh Zam Zam Noor yang sedikit mirip dengan Kong. Dalam kesempatan ini Joko Pinurbo pun membacakan puisi berjudul “Ibu”. Joko menilai bahwa puisi berjudul IBU ini sangat indah karena ada kata ‘goyangkan” dimana ada satu kesatuan antara alam dan manusia. Puisi ini termasuk puisi paling indah karena Mr.Kong ini mmepersonifikasikan seberkas matahari. Yang paling takjub adalah baris awalnya itu “ Di dunia ini terlalu banyak manusia dan rumah sehingga sulit bagi Tuhan untuk singgah”. Nah itu Indonesia sekali, Jakarta sekali, dimana pembangunan terlalu banyak dan sumpek. Sampai Tuhan pun tidak kebagian tempat. Tetapi interpretasi harfiah yang terdalam adalah bahwa kita terlalu banyak memburu yang fana di dunia ini sampai kita tidak sempat untuk memberi cinta pada Tuhan. Ini semacam sindiran terhadap hidup kita yang mungkin kelihatan penuh dengan hal-hal yang berharga tetapi kita tidak menyediakan tempat yang layak untuk Tuhan. Puisi ini memang menyentuh hal religiusitas dan sesuai dengan konteks di Indonesia. Salah satu puisi Kong sangat tepat menggambarkan kehidupan masyarakat miskin di Indonesia adalah puisi berjudul “Sup Bintang-Bintang”

Ibu yang miskin, selalu membuat sup tanpa isi. Ibu menyuruhku yang baru pulang sekolah, duduk di lantai rumah seperti tamu. Dengan hati-hati ibu keluar dari dapur, sambil membawa makanan dalam pinggan porselen putih. Saat kusendok, bintang-bintang yang ada dalam sup. Aku merasa kenyang. Suara dentingan merdu sendok dan bintang yang bersentuhan, membuatnya menangis. Kristal cahaya bintang pun, turun dari mata ibuku.

         Akhir puisi ini luar biasa karena ada satu penghayatan transendal bahwa bintang itu kan di langit dimana itu melukiskan kekuatan Ilahi, diturunkan pengalaman manusianya di tengah keluarga yang miskin yang membuat sup tapi tidak ada daging, hanya berisi air saja. Bagaimana makro kosmos itu ditarik ke dalam mikro kosmos. Jadi penghayatan pengalaman Ilahi ini ditarik ke dalam pengalaman kompleks yang manusiawi. Nah, teknik semacam ini memang hanya bisa dilakukan oleh penyair yang memang memainkan imajinasi dan pencitraannya luar biasa. Dan Pak Kong ini memiliki kemampuan spesial dalam mendeskripsikan perilaku dan karakter alam. Yang menonjol dari buku puisi ini adalah bagaimana hubungan antara alam dan manusia ini dipisahkan dan direkatkan kembali dalam kata-kata.

Koreksi Dua Penyair pada Terjemahan Puisi Kong

        Ibnu Wahyudi sebagai pengajar dan penyair mengatakan bahwa buku puisi ini terdapat permasalahan terjemahan. Pemilihan kata “ desa” atau” kampung” adalah  permasalahan terjemahan adalah problem yang tidak mudah dalam konteks puisi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa puisi itu musthail dapat diterjemahkan dengan tepat. Pada bagian terakhir dari puisi “Untuk Ibu 1” halaman 100 hasil terjemahannya kehilangan aura. Namun memang puisi terjemahan memang mudah untuk dibuat seperti aslinya. Yang dapat dilakukan oleh penterjemah adalah khasanah pada flora dan fauna. Mengingat tidak semua bunga dan pohon di Korea tidak semuanya dikenal oleh pembaca di Indonesia. Persoalan musim pun menjadi masalah karena Indonesia hanya mengenal dua musim sedangkan Korea empat musim. Karena itulah Ibnu menyarankan agar dalam terjemahan disertakan catatan kaki agar pembaca dapat semakin memahami isinya.

       Dalam konteks terjemahan ada ungkapan yang dinamakan “Pengkhianatan Kreatif” penerjemah yang baik adalah penerjemah yang mampu berkhianat. Karena yang diterjemahkan bukan sekedar kata-kata tapi adalah sebuah ungkapan yang berbeda dengan bahasa sasaran . Diperlukan sebuah kemampuan reproduksi terjemahan dimana terjemahan seorang penyair dengan seorang penterjemah biasa tentu akan berbeda maknanya. Karena itulah menyunting puisi pun memerlukan keahlian khusus.

          Menurut Joko Pinurbo yang membantu sebagai penyelaras buku mengatakan bahwa dia hanya bisa membantu berdasarkan pengalaman beliau dalam menulis puisi dalam bahasa Indonesia. Menterjemahkan memang sangat rumit karena harus ada keselarasan rima dan harmonisasi bunyi antara terjemahan dan bahasa asli. Karena itulah penterjemah harus memiliki pengetahuan dalam peralatan puitik yang digunakan penyair, contohnya yaitu dalam keselarasan bunyi. Karena hasil terjemahan pun harus menyesuaikan dengan cita rasa Bahasa Indonesia. Dalam menulis puisi yang bagus seklaipun kadang bisa menjadi fals karena ada satu diksi yang tidak pas. Memang menyunting puisi itu salah satunya harus bsia menemukan nada-nada yang fals.

Kong Kwang-kyu sendiri tidak banyak memberikan penjelasan. Beliau hanya mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa dalam buku puisi tersebut ada beberapa judul yang ditulis setelah mengunjungi Indonesia, terutama pada waktu kunjungan ke Borobudur. Namun, beliau menyampaikan sedikit kekecewaannya karena ada judul puisi yang tidak dapat dimuat dalam buku tersebut dikarenakan membahas tentang alkohol.

Tim Blogger BloMil

Sejarah Puisi Korea

           Puisi bagi orang Korea adalah sebuah maha karya yang tinggi dan memiliki sejarah sejak zaman kerajaan Joseon.  Puisi Korea adalah puisi yang ditulis oleh orang Korea dan sampai abad ke-20 masih menggunakan bahasa  Hanja dan Hangul.  Penerbitan buku puisi Korea sendiri cukup menggembirakan dengan rata-rata penjualan antara 1.000-2.000 eksemplar dengan lebih dari 200 judul buku.

Puisi Korea terdiri dari :

  1. Silla. Hangga merupakan karya sastra Silla dengan ciri-ciri jumlah bait 4, 8 dan 10. Ditulis dengan aksara Tionghoa dan sistem idu, Hyangga banyak berisi tema Budhisme.
  2. Lagu Goryeo atau Goryeo Gayo adalah karya sastra yang muncul pada masa Dinasti Goryeo. Karya ini dibagi dua yakni dailyeocnhe dan yeonjanche. Tema yang ditulis pada umumnya tentang kehidupan manusia dan alam.
  3. Sijo, puisi yang berkembang dan sangat digemari oleh masyarakat umum karena berisi tentang kesetiaan dan ajaran Konfusius
  4. Gasa, pusi berisi keindahan alam, cinta, perasaan, dan kehidupan manusia. Gasa banyak berkembang di kalangan bangsawan pada masa Joseon.

Perbedaan antara Silla, lagu Goryeo, Sijo dan Gasa adalah pada masa puisi dibuat, ritme, perulangan, dan  tema. Puisi Korea sangat lekat dengan keseharian masyarakat karena memang berisi ungkapan hati masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here