“’Kita asyik berbicara tentang kesetaraan gender, tentang keterwakilan perempuan, tetapi masih banyak perempuan yang sungguh tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan mengalami kekerasan-kekerasan yang demikian terstruktur”

Buku “Melati di Taman Keberagaman” merupakan kisah tentang bagaimana perjalanan Ibu Mathilda AMW Birawa dan pengalamannya selama 30 tahun mengajar. Buku ini akhirnya bisa diterbitkan Grasindo bertepatan dengan sumpah pemuda dan kesaktian pancasila. Melati di Taman Keberagaman, “melati” yang merupakan perumpamaan perempuan yang cantik dan harum. “Di taman keberagaman” menggambarkan tentang Indonesia yang kita cintai. Praktik kepemimpinan inklusif di indonesia dan Australia merupakan salah satu contoh studi banding. Kenapa praktik kepemimpinan itu harus diturunkan, karena kepemimpinan bukan sesuatu sekedar wacana, kepemimpinan harus dipraktikkan, siapapun kita terutama kaum perempuan memiliki nilai-nilai kepemimpinan, bahkan sejak kita dilahirkan. Kita tidak ada latihan melahirkan anak, membesarkan anak, mengurus rumah tangga keuangan keluarga dll. Kita berpraktik sambil berjalan, nilai-nilai kepemimpinan juga kita miliki. Buku ini secara khusus mengurai 3 aspek :

  1. Perempuan ( women)
  2. Kepemimpinan ( leadership)
  3. Keberagaman (diversity)

Kenapa harus perempuan? Karena kita mempunyai ruang, waktu dan kesempatan untuk bertemu dimana kita bisa berbagi dan berbincang tentang profesi dan apa yang akan kita lakukan di masa depan.Tapi tidak sedikit perempuan di belahan dunia lain di Indonesia lainnya, bahkan untuk berbicara saya harus makan apa tidak ada di benak mereka. Bahkan ketika remaja putri melihat melihat remaja lainnya pergi ke sekolah dia hanya bisa melihat karena sebentar lagi dia akan dikawinkan dalam bentuk perkawinan anak. Dan di lain tempat masih banyak teman-teman yang terkena diskriminasi. Salah satunya dari sahabat-sahabat Ahmadiyah, bagaimana kita memandang mereka, bahkan untuk bisa beribadah rumah ibadah mereka dihancurkan. Masih banyak perempuan yang hanya bisa untuk membeli sepatu sekolah dan tak pernah memegang gawai, sementara remaja putri di perkotaan gonta-ganti smartphone. Di luar sana anak-anak yang menginginkan sepatu sekolah harus pergi jauh dari orangtuanya. Mereka harus jadi buruh migran di usia dimana seharusnya meniti pendidikan.

Persoalan perempuan harus kita angkat karena perempuan melihat perempuan dengan isu-isu yang begitu banyak, seperti melihat isu gunung es. Kita asyik berbicara tentang kesetaraan gender, tentang keterwakilan perempuan, tetapi masih banyak perempuan yang sungguh tidak dapat berbuat apa-apa bahkan mengalami kekerasan-kekerasan yang demikian terstruktur. Mereka tidak dapat disentuh oleh media, mungkin karena kisah mereka tidak patut dan tidak seksi dijual. Jika apa yang mereka alami tidak banyak kita ketahui maka perempuan disini perlu kita angkat. Kita percaya bahwa pemimpin yang baik akan membawa, mengarahkan, kelompok, organisasi, komunitasnya ke arah yang baik untuk mencapai visi misi mereka. Maka tidak heran presiden mengatakan “Yang berlaku adalah visi misi presiden dan wakil presiden” karena seberapapun itu kalau pemimpinnya baik akan membawa kita ke arah yang baik. Maka soal peran perempuan kepemimpinan /leadership sangat penting karena perempuan memiliki nilai-nilai kepemimpinan. Bagaimana nilai-nilai kepemimpinan itu bisa kita terapkan untuk menjadi sesuatu yang berarti? Kita bisa mulai dari lingkungan yang kecil, dalam keluarga, komunitas kemudian bangsa dan negara. Karena tidak sedikit dari kita berada dalam keluarga, organisasi, tapi kita sibuk belum menyelesaikan masalah dalam internal organisasi tapi mencari panggung masing-masing, sibuk gontok-gontokkan, bagaimana kita mau maju? Jadi soal perempuan adalah soal masalah dari dalam diri mereka sendiri tapi juga ada masalah dari luar yang perlu kita hadapi.

Sudah seharusnya kita bersatu dan bergandeng tangan kita bisa membuat sesuatu perubahan bagi bangsa dan negara, terutama terkait bagaimana kita bisa melawan isu radikalisme secara bersama. Mulai dari dalam organisasi, rumah, komunitas kita.

Aspek ketiga adalah keberagaman, dimana kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa kita hidup dalam mana lawan mana teman. Karena semua ingin menuju memenangkan apa yang menjadi tujuan kelompok mereka. Masalah keberagaman menjadi point penting. Beberapa penelitian menggambarkan bahwa kita terus sangat prihatin dengan isu keberagaman/intoleransi, yang bahkan secara masif sudah masuk dalam dunia pendidikan kita. Apakah kita akan diam saja? Saya berharap bahwa buku ini mengajak, memberikan semangat bagi kita, menjadikan kita bangun, bahwa kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus bergerak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan NKRI.

Di dalam buku ini ada beberapa aspek sikap kepemimpinan :

  • The servent leadership ; kita lihat tidak sedikit tokoh perempuan yg memimpin secara melayani. Mereka menjadi pelayan bagi masyarakat, menjadi pelayan bagi anggotanya, mereka tidak duduk di singgasana, tetapi bersama-sama bahkan duduk ngedeprok di anak tangga. Pemimpin yang selalu dekat dengan rakyatnya maka istilah blusukan saat ini begitu menggema. Karena pemimpin yang melayani sangat kita perlukan sekali, kemudian bagaimana pemimpin yang bisa beradaptasi, yang bisa memberikan inspirasi, menekankan pada moral, dan pada akhirnya adalah inlkusif leadership dimana kepeimpinan yg terbuka, gtransparant, kita memandang orang lain tidak pada perbedaan, tetapi bagaimana dengan perbedaaan ini kita bisa melakukan sesuatu ygberarti bagi saudara-saudara kita.

Diharapkan buku ini bisa menjadikan perempuan melihat sesuatu ke depan jadi lebih baik lagi untuk Indonesia dan mengambil bagian di dalamnya. Contohnya adalah dua Srikandi yang berkarya di Indonesia Timur. Suster Laurentina atau yang dikenal sebagai suster kargo. Karena sehari-hari dia menunggu di pelabuhan udara, bukan untuk menunggu paket berisi makanan, tetapi menunggu paket yang isinya jenazah dari korban buruh migran. Mereka meninggal bisa karena sakit, karena kekerasan dari majikan, bisa juga karena tidak tahu alasannya apa. Sehingga ketika mereka pulang pun apalagi dalam bentuk jenazah, itu bukan hal yang mudah. Suster Laurent berkarya untuk bisa memulangkan, menjaga martabat, kaum migran di luar negeri ketika pulang dalam bentuk jenazah. Dia bisa diterima oleh keluarganya dan dimakamkan sebagaimana mestinya. Dan ternyata aksi ini mengundang salah satu komunitas dari Australia untuk bergerak turun dalam aksi sosial di tanah Papua.

Sebenarnya ternyata banyak sekali perempuan-perempuan Indonesia yang mengorbankan banyak perasaan dan hinaan dari anggota masyarakat hanya karena mengemukakan peranan wanita di dalam masyarakat.

Sosok Pemimpin

Soal kepemimpinan kita bicara pemimpin yang ideal jadi kalau kita punya pemimpin yang baik bawahnya akan baik. Tapi kalau salah memilih pemimpin ke depannya juga akan salah. Cara memilih pemimpin yang baik :

1. Harus memilih pemimpin yang benar-benar capable, punya jam terbang, dan sungguh-sungguh mau melayani bukan cuma cari panggung.

2. Gunakan kekuatan power of emak-emak, komunitas perempuan pun sampai level nasional, sampai ke akar rumput, ranting cabang levelnya artinya kita sudah kuat. Satu organisasi saja powerfull apalagi bila kita bergandengan tangan bersama-sama sangat kuat sekali. Untuk merawat kebhinekaan, kebhinekaan itu kan warisan yang diberikan bukan dengan main-main jadi kalau kita lihat begitu mudahnya kita diobok obok, kita mudah sekali baperan, terpecah belah, harus dicegah karena kita adalah perempuan luar biasa. Keluarbiasaan kita ini dapat digunakan untuk yang lebih berarti bagi NKRI. Jadi jangan sampai pelor – pelaku teror– ada di antara kita. Kita harus berani berbicara membela kebenaran. Kita harus berani memilih jalan walau resikonya kita tak akan di puja-puji lagi.

Acara peluncuran bedah buku “ Melati di Taman Keberagaman” yang diadakan di Aula Perpustakaan Nasional ini turut dihadiri oleh narasumber Prof. Dr. Musdah Mulia, ICPR dan Hermien Kleiden, media mentor.

Data Buku :

Ju

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here