Pendidikan seyogyanya tidak boleh diserahkan pada orangtua saja atau bahkan hanya pada guru saja. Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah. Dan hubungan interaksi siswa dengan guru tentu hanya beberapa jam saja. Lantas bagaimana mungkin orangtua bisa melemparkan tanggung jawab pendidikan anak pada guru hanya karena sudah membayar biaya sekolah misalnya.

Untuk itulah orangtua dan guru harus sama-sama dapat menjalankan peran dan fungsinya sesuai kemampuan. Lantas di era digital yang serba cepat dan serba menggunakan teknologi ini, apa yang harsu dilakukan orangtua dan guru agar dapat menghasilkan siswa-siswi yang memenuhi standar pendidikan?

DR. Ivan Adipurna Chandra, SP. KFR membawakan materi dengan judul ” Stimulasi vs Hambatan Pada Perkembangan Anak.” Spesialis kedokteran fisik dan rehabilitas ini menyorot hal-hal apa saja yang dapat merangsang atau justru menghambat perkembangan anak didik. Kata “Pertumbuhan” bermakna bahwa anak sejak lahir dan dengan dukungan nutrisi cukup akan mengalami fase berubahnya fisik mulai dari bayi, balita, remaja, dewasa hingga tua. Pertumbuhan selalu identik dengan perubahan fisik seseorang yang ditandai dengan tinggi dan berat badan. Sedangkan kata “Perkembangan” itu sendiri bermakna makin besar perubahan seseorang dari sisi intelektual, kepandaian, kemampuan motorik, kognitif, kecerdasan, tingkah laku dan komunikasi.

Perkembangan anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan mata (visual), penciuman, pendengaran, sentuhan, mengecap (lidah). Lantas bagaimana caranya agar anak terstimulus perkembangannya? Mudah, ajak anak-anak untuk beraktivitas dan bergerak. Sediakan waktu khusus untuk menemani anak bermain di taman atau area publik terbuka lainnya. Sambil menemani bermain Anda bisa mengajak biacara santai. Tanyakan hal apapun pada anak dan pancing dia untuk mau berbicara dan mengemukakan pendapat atau isi pikirannya. Dengan aktivitas dan komunikasi dua arah, hal ini dapat menstimulus otak dan hati anak untuk berfikir dan berani mengeluarkan pendapat.

Salah satu hambatan yang saat ini dihadapi para orangtua dan guru adalah pengaruh GAWAI ( gadget). Dengan harga gawai yang semakin terjangkau dan nilai nominal paket data bahkan bisa dibeli senilai uang saku anak, semakin menyuburkan ketergantungan anak pada gawai. Era 1990-an orangtua harus berteriak atau menjewer telinga anaknya agar mereka mau pulang padahal waktu bermain sudah melewati maghrib. Namun sekarang orangtua harus memaksa anak-anaknya agar mau bermain keluar dengan menggerakkan fisik karena mereka terlalu asyik dengan gawainya. Miris, bukan? Di saat perkembangan teknologi seharusnya membuat hidup kita lebih mudah namun faktanya orangtua dan guru harus menegangkan uratnya karena ketergantungan ini.

Sebenarnya apa sih dampak negatif gawai pada anak? :

  1. Memberikan gawai pada anak dibawah usia 2 tahun. Otak anak dibawah 2 tahun belum tumbuh dengan baik dan utuh. Efek radiasi pada gawai disinyalir menjadi penyebab macetnya pertumbuhan otak dan motorik anak.
  2. Mental anak yang terlalu dini terpapar gawai cenderung mudah putus asa, mudah takut, ketergantungan pada alat, fokus pada diri sendiri ddengan tidak mengindahkan lingkungan, dan gangguan psikis antara lain mudah marah.
  3. Mata adalah jendela dunia. Tanpa mata keindahan dunia dan isinya hanyalah fatamorgana. Gawai yang terlalu sering digunakan berakibat buruk pada perkembangan dan kesehatan mata anak. Paparan radiasi yang kuat, pertumbuhan fisik yang belum maksimal, dan ketidakmampuannya mengontrol penggunaan gawai, berakibat pada menurunnya fungsi mata. Maka tak heran di zaman sekarang anak usia balita pun sudah menggunakan kacamata, bahkan ada yang sampai buta.
  4. Obesitas bukan hanya milik orang dewasa saja. Obesitas kini banyak menghantui para orangtua karena salah dalam mengartikan kata ” kenyang” dan ” bergizi.” Junk food ikut menyumbang kegemukan pada anak karena pola makan yang lebih banyak ke mal dengan alasan sambil jalan-jalan. Padahal seharusnya pola makan anak diatur dengan asupan gizi seimbang 4 sehat 5 sempurna.
  5. Karena kerajingan gawai, anak sering lupa pada aktivitas yang lain. Belajar ogah-ogahan, perintah orangtua atau guru masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Keasyikan bermain gawai membuat anak lupa waktu hingga berakibat pada pola tidur. Kurang tidur menjadi menu sehrai-hari karena asyik main game. Waktu tidur tidak berkualitas inilah yang menghambat perkembangan otak dan motorik anak sehingga berakibat pada menurunnya daya konsentrasi dan akhirnya tugas utama sebagai pelajarpun terbengkelai.
  6. Tulang anak-anak itu masih dalam proses pertumbuhan. Karena asyik menunduk dan menatap layar gawai, otomatis tanpa disadari struktur tulang pun ikut berubah. Badan jadi bungkuk atau tidak seimbang antara sisi tubuh sebelah kiri dan kanan adalah efek yang diakibatkan karena terlalu lama memainkan gawai. Tak jarang anak usia sekolah sudah menjadi langganan dokter tulang atau orthopedi.

Lantas langkah apa yang harus dilakukan orangtua dan guru?

  1. Buatlah aturan tertulis yang harus ditaati bersama. Tidak hanya anak tapi juga orangtua. Orangtua kadang terlalu asyik memegang gawai padahal sedang berada bersama anak, maka jangan salahkan anak ketika mereka akhirnya meniru. Jika dirumah buat aturan jam berapa boleh memegang gawai dan berapa lamanya. Ortu pun harus mentaati ini ya
  2. TV saat ini banyak menayangkan tontonan yang kurang mendidik. Maka sebaiknya pilih tontonan yang mendukung perkembangan anak. Matikan TV pada saat anak mulai masuk jam belajar atau hendak tidur
  3. Jika dirumah ada fasilitas wifi dan televisi kabel, atur agar hanya tontonan anak-anak yang dapat mereka akses. Hal ini untuk menghindari anak membuka acara yang tidak sesuai dengan usia, terlebih jika orangtua kedua-duanya bekerja di luar rumah.
  4. Peran guru tak kalah penting dengan terus menerus memberikan edukasi pada siswa bagaimana menggunakan gawai yang bermanfaat. Guru dapat menggunakan gawai atau fasilitas digital lainnya dalam proses belajar mengajar. Hal ini dapat merangsang siswa untuk terbiasa kreatif dalam menggunakan teknologi.

Narasumber lain yang hadir adalah Frans Lepong CM, NLP yang membawakan “Hypnoteaching : Komunikasi Verbal & Non Verbal.” Guru zaman now harus mau belajar dan mampu mengaplikasikan bagaimana sebenarnya pola komunikasi verbal dan non verbal yang dapat merangsang anak didik. Dengan perkembangan teknologi yang cepat sudah tentu guru tidak bisa berleha-leha menerapkan pola komunikasi satu arah. Interaksi antara guru dan siswa perlu intens dilakukan lewat komunikasi karena komunikasi terbukti mampu memecah permasalahan yang selama ini dihadapi anak didik dan tentunya orangtua juga.

Acara semakin semarak dengan hadirnya artis senior Ray Sahetapy yang berbagi cerita bagaimana beliau dan istrinya (mantan) artis kawakan Dewi Yull mengasuh anak-anak mereka yang spesial. Dengan meneguhkan hati dan ikhlas, anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa berhasil asal orangtua mampu mengenali apa kelebihan yang dimiliki anak.

Gramedia sebagai salah jenawa (merek) yang sudah tidak diragukan lagi kali ini memberikan informasi yang sangat bermanfaat. Program LALALIT adalah program dimana Gramedia memberikan kesempatan pada sekolah-sekolah untuk mengadakan acara terkait buku. Dimana semua peralatan disediakan oleh Gramedia dan pihak sekolah hanya menyediakan tempat dan muridnya saja. Hal ini tentu merupakan terobosan baik sebagai bentuk komitmen Gramedia dalam keikutsertaannya mencerdaskan anak bangsa.

Acara Seminar Guru Cerdas dan Orangtua Bijak ini diselenggarakan pada 31 Agustus 2019 bertempat di Citywalk, Mangga Dua, Jakarta Barat. Acara yang terselenggara berkat kerjasama PT. Goldena Inti Dinamika, PT. Pegadaian (Persero), Sosialisasi Program Lalalit dari Gramedia. Peserta datang dari kalangan organisasi guru PGRI, penggiat literasi, blogger dan khalayak umum lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here