“Yee, ya panteslah dia sukses, dia kan dari keluarga tajir melintir, semua apa yang dia butuhkan tersedia. Emang kayak kita mau makan aja kudu mumet dulu”

Kalimat bernada serupa sering kita dengar, bahkan mungkin kita mengalami sendiri bagaimana kalimat itu setidaknya pernah sekali masuk dalam ruang batin dan pikiran kita. Kalimat pembenaran yang sering kita anggap sebagai pembelaan dan tameng atas kegagalan dan kesuksesan yang tertunda. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa salah satu faktor kegagalan yang tertunda itu disebabkan oleh ketidakmampuan diri kita sendiri dalam mengatasi persoalan?

Pernah nggak iri dengan teman atau keluarga yang rasanya hidup seperti Sultan? Rumah mewah, mobil dan kendaraan lain berderet di garasi, uang nggak ada serinya, tiap akhir pekan ke mal bahkan keluar kota. Ahh, pokoknya membuat iri, deh. Dan kita pun terpuruk di sudut kamar meratapi nasib yang seolah-olah tak pernah berpihak. Sebenarnya alami, sih kalau kita iri dengan kehidupan orang lain. Namun, pernah nggak berfikir bahwa materi dan jabatan itu hanya hasil akhir, bonus atas keberuntungan, kegigihan dan doa yang dipanjatkan. Pertarungan sebenarnya justru terletak saat proses menuju hasil tersebut.

Contoh, ada seorang teman lulus dengan hasil cum laude. Tepuk tangan dan decak kagum bergemuruh saat namanya disebut oleh rektor. Namun, tak banyak orang tahu bagaimana untuk mencapai predikat cum laude itu teman tersebut harus berjuang mati-matian. Kurang tidur karena belajar sampai pagi, rela nggak jalan-jalan atau sekadar hang out dengan geng demi menyelesaikan kuliah, menahan malu harus jualan atau kerja sambilan agar bisa beli baju baru atau  beli buku pendukung kuliah, mojok berhari-hari di kamar yang berantakan oleh buku dan kertas fotokopian, meringis sambil melambaikan bendera putih saat keluarga mengajak menginap keluar kota. Aduh, pokoknya perang batin, deh menghadapi godaan-godaan.

Tapi buah dari penderitaan teman tersebut terbayar saat wisuda. Hilang seketika semua lelah dan tangis saat belajar. Kantung mata mendadak menghilang berganti dengan binar mata bahagia. Lantas, masihkah kita berani mengatakan bahwa hanya orang kaya bergelimang fasilitas saja yang berhasil dan sukses? Tidak. Kita boleh miskin harta tapi jangan sampai miskin ambisi. Ambisi positif yang akan menuntun langkah kita. “Tapi, bagaimana kalau orangtua saya nggak mampu? Bagaimana mau kuliah kalau untuk makan saja harus jungkir balik dulu? Gimana mau tampil dengan baik dan bagus kalau pakaian saya itu-itu saja? Sepatu aja udah dua tahun nggak beli”

Ayo, dong jangan pesimis begitu. Kan, Allah sudah memberi kelebihan pada dirimu berupa bakat, kemampuan dan hal-hal lain yang bisa jadi tidak dimiliki orang lain. Sebetulnya ada beberapa poin yang harus dilakukan untuk membuka cara pandang yang salah tentang miskin dan ambisi :

  1. Ubah Pola Pikir  ~ Bukan soal materi dan pendidikan yang menghambat hidup seseorang untuk maju, tapi pola pikir. Cara seseorang menilai sesuatu itu berpengaruh, loh terhadap proses perjuangan. Contoh, kalau sejak awal minder dan selalu merasa orang lain selalu lebih tinggi ya siap-siap saja bakal ketinggalan terus. Bukannya fokus belajar, bekerja dan berkarya tapi malah sibuk ngomel dan menumpuk rasa iri hati. Ayolah, belajar membuka isi kepala, membuka ruang hati yang luas dan percaya bahwa kita itu pintar dan punya kelebihan.
  • Kenali Diri ~ “Jangan berharap orang mencintai dan menghargaimu jika kamu sendiri belum tahu siapa dirimu.” Nah, kalimat ini sepertinya ampuh untuk menyentil orang yang selalu minder, seolah-olah orang miskin itu bukan makhluk berharga. Bagaimana seseorang bisa bergerak melesat dan mencapai tujuan kalau siapa kalian, apa kelebihan dan kekuranganmu, apa yang kalian suka dan tidak suka saja belum kalian gali. “Ya, gimana mau kenal diri sendiri, selama ini aja saya takut salah, takut dimarahin, makanya lebih sering ikuti apa kata dan mau orang” ~ Wah, jangan sampai ya kita seperti itu. Percaya deh, kalau kalian mau berhasil dan mengejar mimpi, percaya pada diri sendiri. Kalau kalian sudah sampai pada tahap SELF LOVE, otomatis jalan kalian lebih ringan. Bukan berarti tanpa hambatan tapi setidaknya dengan mengenali diri kalian akan punya kekuatan lebih bagaimana seharusnya melangkah.
  • Gali Bakat ~ Apa hobimu? Apa bakatmu? Menggambar, olehraga, main musik, menyanyi, menari, atau apa? Kalau punya bakat dan hobi, segera corat-coret di kertas kalian mau jadi apa dengan bakat itu. Jangan sia-siakan masa muda dengan prinsip salah,” habiskan masa muda dengan bermain dan berhura-hura,deh. Cobalah masuk ke organisasi atau komunitas yang akan mendukung bakat kalian. Kalau nggak punya uang untuk biaya kursus, bisa cari yang gratis. Kalau ada pertemuan dimana lokasi jaraknya jauh, coba sisihkan uang saku atau belajar jualan produk teman yang nantinya keuntungannya bisa digunakan untuk ongkos. Intinya, kejar apapun dengan cara halal dan baik demi bakat yang luar biasa.
  • Keluar dari Sarang ~ Jangan pernah berharap sukses kalau hanya mengandalkan harta. Harta bisa habis, tapi etos kerja dan niat luhur mampu mengantarkan seseorang ke jenjang keberhasilan. Jika selama ini kita masuk dalam golongan kaum rebahan dengan segudang alasan, please, deh. Ini sudah zaman digital, loh. Nggak zamannya lagi orang berleha-leha mengandalkan orang lain atau menunggu bintang jatuh yang akan mengantarkanmu jadi orang kaya. Atasi rasa takut, perasaan minder karena minimnya materi, terus saja bergerak, jangan terlalu banyak istirahat dengan alasan apapun. Jangan jadi pecundang yang hanya bisa iri dan nyinyir dengan keberhasilan orang lain. Jangan suka mencari pembenaran atas kemalasan yang sudah akut.
  • Go, Go, Go ~ Sukses itu hak prerogatif Allah. Tugas kita sebagai hamba itu ya berusaha dengan cara belajar dan bekerja semaksimal mungkin. Oh ya, jangan lupa berdoa menurut keyakinan dan agama masing-masing, ya. Meski sudah belajar dan bekerja dengan maksimal tapi kalau lupa pada Sang Pencipta ya wassalam, deh. Kan Tuhan itu rindu dengan umat yang membutuhkan bantuan-Nya, loh. Nah, kalau sudah belajar, bekerja dan berdoa, pasrahkan semuanya pada Tuhan. Biar Tuhan bekerja dengan kuasa dan kasih sayang-Nya untuk kesuksesan. Tapi ingat, kalau semua jerih payah kita ternyata belum dikabulkan Tuhan ya jangan marah. Kita harus belajar lagi dan memahami apa, sih maksud Tuhan menunda keberhasilan? Intinya kita tetap fokus pada masa depan meski berjuang dengan segala kekurangan. Miskin kantong boleh, tapi jangan sampai miskin ambisi. OK?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here