“Kenapa kita harus membuang dividen 120 sampai 150 juta dollar tiap tahun untuk membeli beras dari luar negeri? Persediaan bahan makanan ini harus ditambah. Tanah kering harus ditanami dan nilainya khasiatnya harus dibuat sederajat dengan nilai khasiat padai, misalnya jagung, jawawut, kedele, kacang tanah, dan lain-lain sebagainya lagi.”

Darurat Sagu

Petikan pidato Presiden Soekarno di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia pada 27 April 1952 seharusnya menjadi lampu kuning bahwa Indonesia tidak bisa mengandalkan hanya pada padi saja sebagai makanan utama masyarakat. Namun faktanya kebijakan pangan nasional hingga kini masih identik dengan beras.  Menurut Ahmad Arif sebagai penulis buku “Sagu Papua” bahwa kerentanan pangan Indonesia bisa dikatakan karena kurangnya pengetahuan dibandingkan dengan kurangnya sumber pangan. Sudah saatnya pemerintah menempuh kebijakan pangan yang berperspektif Nusantara. Padahal Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Sebagai sumber pangan awal manusia moder, Indonesia memiliki cadangan sagu terbesar di dunia. Namun ironisnya justru Malaysia yang mendominasi pasr ekspor sagu dunia. Berangkat dari keprihatinan itulah PT. Austin Nusantara Jata Tbk bekerjasama dengan Penerbit KPG ( Kepustakaan Populer Gramedia) meluncurkan buku “Sagu Papua utuk Dunia” yang ditulis oleh Ahmad Arif, wartawan harian Kompas. Buku ini memuat begitu banyak hal tentang bahan pangan bahwasanya Indonesia harus sudah menjadikan keberagaman pangan sebagai strategi ketahanan pangan nasional. Sebagai perusahaan pangan berbasis agribisnis, PT ANJ begitu konsisten dan fokus mengembangkan sagu agar mampu menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia selain beras. Adanya fenomena bahwa sagu di Papua mulai tergantikan oleh beras dan gandum membuat PT ANJ semakin terus melakukan inovasi agar makanan pokok Papua ini tidak hilang begitu saja.

Peluncuran buku “Sagu Papua untuk Dunia” diluncurkan di restoran Bueno Nasio yang berarti dapur enak. Uniknya Bueno Nasio adalah restoran yang dikelola oleh PT. ANJ yang menyajikan semua hidangan berbahan baku sagu. Acara ini terbagi dalam dua sesi, yaitu :

Sesi 1  : menampilkan pembicara Ahmad Arif selaku penulis buku, Naga Waskita (Direktur PT. ANJ) dan Agung Hendriadi ( Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian).  Diskusi menarik seputar sejarah sagu dan urgensi pangan alternatif pangan non-beras, tantangan dan peluang dalam bisnis sagu, serta strategi pemerintah untuk menjadikan sagu sebagai komoditas pangan strategis.

Sesi 2 : membagas soal pengolahan sagu dalam kuliner Indonesia. Tampil sebagai narasumber Chef Charles Toto (Jungle Chef), Helianti Hilman (Pendiri dan CEO Javara Indonesia), Saptarining Wulan ( Dosen Gastronomi Sekolah Tinggi Pariwisata Trisaksi), dan Endang Yuli Purwani ( Peneliti Madya Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Kementerian Pertanian).

Ketika terjadi kasus kurang gizi di Papua dan Brebes, apakah terlintas di kepala kita mengapa negara yang kaya akan kekayaan alamnya ini harus kekurangan pangan, bahkan mengimport beras? Kemana kita selama ini sehingga harus melakukan import gandum secara besar-besaran? Selama ini ladang-ladang yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara terbengkalai, tidak kita sentuh padahal Indonesia memiliki begitu banyak anak-anak muda sarjana pertanian. Apa yang salah dengan pertanian dan cara kita menangani pangan di negeri ini? ‘

Sekilas Tentang SAGU

Sagu adalah bahan pangan pokok asli Papua yang telah menyatu dengan peradaban masyarakat Papua selama ribuan tahun. Sagu memiliki kandungan karbohidrat tinggi, bebas gluten, dan indeks gilkemiknya rendah. Bahan pangan ini cocok untuk masyarakat yang berkebutuhan khusus serta dapat mencegah diabetes dan kanker. Selain itu sagu memiliki kemampuan adaptasi yang baik sehingga kebal terhadap perubahan iklim atau musim. Daya tahan sagu pun tinggi karena mampu beradaptasi dengan konsisi ekstrem seperti banjir, kekeringan dan angin kencang. Dibandingkan dengan beras dan gandum, sagu jauh lebih ramah lingkungan karena dapat menyatu dengan alam.

Hingga saat ini Papua merupakan kawasan yang menyimpan cadangan hutam alam terbesar  yang masih tersisa di Indonesia . Berdasarkan catatan Marco POLO DAN Wallace, telah terjadi pergeseran pola pangan yang semula sagu beralih ke beras. Tumbuhan sagu juga menjadi sumber pangan utama di Jawa, yang ditandai dengan terukirnya pohon sagu dari empat palem di relief Candi Borobudur. Berdasarkan data Indonesia memiliki cadangan sagu terbesar di dunia dengan laus lahan 1,2 juta hektar.  Sagu kalah pamor dengan beras, padahal sagu bsia dibuat bermacam-macam jenis makanan seperti mi sagu, kue kering coklat, dll.

Lantas bagaimana cara pengolahan sagu di pabrik ANJAP ?

  1. Sagu dipanen dengan gergaji mesin, lalu dipotong menjadi tual sagu berukuran panjang lebih kurang 2 meter. Tual sagu yang telah terkumpul ditarik dan dimobilisasi menggunakan ekskavator.
  2. Tual sagu yang sudah terpotong kemudian diikat raoi dan ditarik perahu dari perkebunan menuju pabrik melalui kanal buatan.
  3. Di pabrik tual sagu dipotong kembali sepanjang 1 meter, lalu dikupas kulitnya dengan debarker dan log pusher.
  4. Setelah pengeringan selesai, sagu pun menjadi tepung yang siap dikemas.
  5. Larutan dimasukkan ke dalam mesin flash dryer untuk dikeringkan
  6. Sagu kemudian dihaluskan dan direbus untuk mengekstraksi pati menjadi larutan, lalu disaring untuk menghilangkan serat kayu. Prosesnya melalui mesin ekstraktor dan hidrosiklon.

Buku “ Sagu Papua untuk Dunia”  adalah seri pertama dari buku seri pangan nusantara .  Nah, kalau mau tahu lebiih detil tentang PT. ANJ dan seluk beluk yuk langsung ke website-nya di www.anj-group.com ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here