Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh lintas budaya, adat dan agama. Akulturasi budaya dari luar pun banyak mempengaruhi perkembangan budaya Indonesia itu sendiri. Catatan tertulis berupa naskah-naskah kuno sudah tentu semakin lama akan semakin lapuk karena termakan usia. Demi menyelamatkan naskah itulah Perpustakaan Nasional RI meluncurkan situs web Khasanah Pustaka Nusantara ( Khastara) yang merupakan hasil kerjasama antara Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi sebagai penyedia sistem dan web serta Pusat Preservasi sebagai penyedia isi atau konten.

Peluncuran Situs Web Khastara

Situs web Khastara ini berisi koleksi digital hasil olah media dari koleksi cetak nusantara yang dimiliki Perpustakaan Nasional. Proses digitalisasi yang sudah dilakukan Pusat Preservasi Peprusnas sejak tahun 2012 diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Web Khastara dibuat dalam bentuk web yang intuistif namun sederhana, sehingga mudah diakses dengan gadget seperti tablet dan smartphone dengan menyesuaikan bentuk/format penyajiannya.

“Kami juga menghilangkan istilah-istilah yang tidak umum yang tidak dikenal masyarakat awam. Kami juga mengharapkan saran dan masukkan dari bapak/ibu untuk menyempurnakan situs web. Kami berharap semoga dari sisi konten maupun tampilan antar muka dapat bermanfaat dalam peningkatan layanan berbasis teknologi informasi dari Perpustakaan Nasional.” kata Ofi Sofyana, Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Perpusnas

Kepala Perpusnas dan Para Deputi

Situs web Khastara sudah berhasil mendokumentasikan sebanyak 8987 judul yang terdiri dari koleksi Manuskrip 837 judul, koleksi Monograf Langka 144 judul, koleksi Kartografi 1548 judul, koleksi Bahan Grafis 5716, koleksi Serial Langka 79 judul dan Sumber lainnya 663 judul.

Peluncuran situs web Khastara ini sekaligus dibarengi dengan tagline Perpusnas 2019″ Pustakawan Berkarya Untuk Ikut Berperan Serta Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”. Pengucapan ikrar Pancakarya Pustawakan Perpusnas 2019 diwakili oleh Aditia Gunawan, Arief Wicaksono, Dedi Djunaedhi Laisa, Luthfiati Makarim, Perwitasari Rengganingtyastuti, Tuti Hendrawati, Muhammad Irsyad, Ratna Gunarti, Fathmi, Mochtar Dole, Fifi Aminingsih, dan Desi Mardianingsih.

Para Pustakawan

“Kita berharap juga bisa mendampingi pustakawan di provinsi maupun di kabupaten kota dalam rangka bagaimana mewujudkan masyarakat yang sejahtera ke depan. Tahun ini kegiatan prioritas pembangunan nasional khususnya dalam bidang perpustakaan yaitu pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar, pemerataan pelayanan pendidikan, penguatan literasi, mengedukasi masyarakat dengan koleksi maupun ketrampilan yang kita miliki sehingga diharapkan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” jelas Adriati sebagai Pustakawan Utama.

Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando dalam sambutannya menitipkan pesan,” Peran pustakawan ke depan akan semakin kita tonjolkan. Indonesia adalah satu-satunya negara yang pernah memiliki 200 aksara, walaupun sekarang hanya ada 20 aksara. Jangan salahkan anak-anak main game tapi perbanyak konten-konten bermutu. Dan ini menjadi tugas Perpustakaan Nasional dan Pustakawan”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here