“Anak nggak tahu diri, diajarin dididik masih saja melawan”

“Aku benci sama mama. Tiap hari dimarahin tapi nggak pernah sekalipun dengerin apa kemauanku”

Kiranya kita sudah banyak mendengar perselisihan antara anak dan orangtua, mulai dari yang ringan sampai berat, mulai dari pertengkaran sampai pembunuhan. Ada hal yang menarik saat kita membahas hubungan antara anak dan orangtua. Mengapa sebuah hubungan yang paling dalam dan erat bisa terkoyak? Karena ego, emosi, hasutan orang lain, bisikkan setan?

Hubungan antara orangtua dan anak adalah hubungan yang tak dapat digantikan oleh apapun dan oleh siapapun. Seperti kata pepatah.” Darah lebih kental daripada air” yang berarti seberat apapun persoalan antara anak dan orangtua, ikatan darah yang akan merekatkannya kembali. Semarah apapun, orangtua tidak tega jika melampiaskan kemarahan pada anak terus menerus. Demikian pula dengan anak, kecewa seperti apapun anak menganggap orangtua adalah satu-satunya pelindung tanpa pamrih.

Setiap orangtua pasti pernah berada pada posisi merasa bersalah pada anak. Baik sengaja atau tidak, kita sebagai orangtua bukanlah manusia yang sempurna tanpa cacat dalam proses hubungan dan pengasuhan. Ada yang merasa bersalah karena terpaksa bercerai dan mengakibatkan anak-anak terpisah dengan salah satu orangtuanya. Ada yang merasa bersalah karena belum bisa memberi kehidupan yang layak bahkan mewah untuk anak. Ada yang merasa bersalah karena tanpa sadar menjadi orangtua yang kasar dan jauh dari kelembutan, baik karena karakter atau tekanan persoalan. Bahkan ada yang merasa bersalah karena terpaksa meninggalkan anak dengan sanak keluarga karena merantau ke luar negeri menjadi TKI.

Cara Mentralisir Perasaan Bersalah :

  1. Perbedaan itu Alamiah ~ Meski anak adalah makhluk yang lahir dari rahim kita sendiri, mereka tetap makhluk yang berbeda. Makhluk yang memiliki sifat sendiri, meskipun sedikit banyak ada gen yang kita turunkan pada mereka. Fisik boleh sama, tapi anak tetaplah anak. Mereka memiliki keinginan dan pemikiran sendiri. Sebagai orangtua kadang kita suka memaksakan kehendak dengan alasan.”Loh, ini yang terbaik. Saya lakukan semuanya demi anak.” Persoalannya apakah kita selalu duduk dan berdiskusi dengan anak sebelum memutuskan sesuatu untuk mereka? Pernahkah sebuah nilai yang menurut kita baik tetap kita paksakan pada mereka, meski menurut mereka itu tidak sesuai dengan keinginannya? Pola pikir orangtua memang sudah terstruktur oleh ilmu dna pengalaman, namun anak-anak sejatinya sedang dalam proses tumbuh kembang. Fisik dan pemikiran mereka sedang bergairah menerima semua informasi yang masuk dan menelaahnya dengan kegairahan khas anak muda. Dididikan yang kita terima adalah model pendidikan lama yang tidak sepenuhnya bisa diterapkan pada anak-anak muda sekarang. Maka, sebagai orangtua seharusnya lebih banyak memahami bahwa perbedaan itu akan selalu ada, bahkan meski hal tersebut adalah sesuatu yang menurut kita terbaik. Berbeda pendapat, berbeda pilihan, dan berbeda keputusan akhir, adalah tahapan yang akan kita lalui dalam proses hubungan anak dan orangtua.
  • Pahami dan Telaah ~ Tidak mudah, loh menerima kenyataan bahwa kadang kita sebagai orangtua “kalah” suara dan kekuatan di hadapan anak. Berapa banyak orangtua yang mau menerima pendapat dan keinginan anak saat berdiskusi? Apalagi ketika kita merasa kekuatan kita sebagai orangtua dianggap remeh, wah rasanya mau berkata kasar, bukan? Tapi mau sampai kapan kita berbuat demikian? Anak memiliki hak untuk mengungkapkan pendapat, memiliki hak untuk didengarkan, dan hak untuk mengambil keputusan. Tugas kita sebagai orangtua tidak selamanya sebagai algojo tapi sebagai mentor. Dengarkan isi hati mereka, ditelaah, beri saran dan pandangan, dan biarkan mereka yang mengambil keputusan. Sebagai orangtua kewajiban kita menyajikan “penganan” lengkap, sisanya biar mereka belajar menerima manfaat atau resiko dari setiap keputusannya.
  • Terima Apa Adanya ~ Setiap anak itu istimewa, dilahirkan dengan kelebihan sekaligus kekurangannya. Cara terbaik mengurangi rasa bersalah pada anak adalah lebih banyak mengembangkan kelebihan mereka daripada membesarkan kekurangannya. Anak pintar menggambar, olahraga, atau hobi lainnya, fasilitasi dengan sarana dan akses keluar untuk mengembangkan diri. Jangan paksa anak menjalani sebuah keputusan atau kegiatan hanya demi memenuhi gengsi orangtua. Rasa bersalah pun kadang timbul karena kita terlalu sering silau dengan prestasi anak-anak lain, namun disaat yang sama garis bibir melengkung kebawah saat anak sendiri belum menunjukkan prestasi apapun. Halo orangtua, anak kita istimewa, loh, jangan paksa mereka berprestasi hanya demi gengsi dan kebanggan kita ya. Please, peluk mereka dengan kasih sayang tanpa batas agar kita tak perlu menumpuk rasa bersalah.

Apapun latar belakang sosial, ekonomi dan budayanya, setiap orangtua pasti pernah merasa bersalah pada anaknya. Ada yang merasa gagal sebagai orangtua, merasa malu karena melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, ada yang menangis karena merasa bersalah belum bisa menjadi orangtua yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak-anak. Dan masih banyak lagi alasan mengapa kita pernah merasa bersalah pada anak. Tapi apapun persoalannya, kita tetaplah orangtua yang terus belajar dan tumbuh, meski tidak pernah sempurna. Sikap, tutur kata, dan tindakan, bisa jadi selalu memiliki kekurangan. Namun, Allah tahu bahwa kita sebenarnya sudah berusaha menjadi orangtua yang maksimal di tengah hidup yang minimal. Tapi ditengah keterbatasan, teruslah berusaha menjadi orangtua yang baik dan bertanggungjawab karena anak-anak pun tahu bahwa mereka memiliki orangtua yang sudah bekerja keras, wajib dihormati dan patut dibanggakan. Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here