“Speak Project menggandeng Union House membuka Speak Disability Academy untuk menigkatkan ketrampilan pada penyandang disabilitas”

Menjadi mitra lembaga pelatihan resmi dalam Program Kartu Prakerja dengan peserta hingga 13.000 lebih, tentu bukan pencapaian yang mudah. Bagaimana Speak Project yang baru berusia 5 tahun sudah berada di posisi baik saat ini, tentu tak lepas dari tangan dingin perempuan cantik dna ceria, Sandika Dewi Rosalini.

Didirikan pada Februari tahun 2016 setelah lulus dari jurusan Komunikasi UIN Jakarta, Sandika memiliki cita-cita mulia bagaimana agar orang-orang memiliki kemampuan public speaking yang baik. Fokus pada pengembangan skill komunikasi dan skill digital dibawah bendera PT. Sinergi Kereasi Top. Berawal dari empat orang kini Speak Project sudah memiliki tim berjumlah 10 orang. Pada kesempatan “Halal Bihalal Partner dan Media Gathering” di Maxone Platinum Hotel, Hayam Wuruk, Speak Project juga mengumumkan pembukaan kembali Speak Disability Academy, pembentukan lini bisnis baru Speak Talent,  sekaligus memaparkan pencapaian selama lebih dari lima tahun ini. Turut hadir dalam acara adalah bapak Imam Gunawan sebagai Asdep Kewirausahaan, Kemenpora, relasi perusahaan, para alumni Speak Project serta rekan media.

SPEAK PROJECT x UNION HOUSE

“Orang-orang dengan disabilitas memiliki akses terbatas terhadap pekerjaan. Mereka sering ditempatkan pada pekerjaan yang tidak memerlukan ketrampilan khusus, sehingga mendapat upah rendah. Padahal, teman-teman disabilitas punya potensi yang sama jika diberi kesempatan untuk mengembangkan dan diberi ruang untuk aktualisasi. Speak Disability Academy hadir untuk memfasilitasi pengembangan dan diberi ruang untuk aktualisasi. Speak Disability Academy hadir untuk memfasilitasi pengembangan ketrampilan di bidang komunikasi bagi teman-teman disabilitas sekaligus mendorong mereka untuk terus berkarya,” ujar Sandika Dewi Rosalini

Tahun 2020 Speak Project sudah memulai program Speak Disability Academy angkatan pertama dengan jumlah peserta 18 orang, dengan usia 17-35 tahun. Menyasar penyandang disabilitas, Speak Disability Academy memberikan pelatihan public speaking dan master of Ceremony (MC). Dan di tahun 2021 Speak Project melanjutkan kembali program ini dengan menggandeng Union House, sebuah platform inklusif yang fokus pada pengembangan diri penyandang disabilitas. Diharapkan melalui kerjasama ini Speak Project dapat menjangkau lebih banyak penyandang disabilitas yang selama ini masih terkendala oleh berbagai hal.

‘Kami melihat adanya visi yang sama antara Union House dan Speak Project dalam mendukung teman-teman disabilitas dalam mengasah bakat, terutama bagi mereka yang m emiliki minat khusus di bidang komunikasi. Kami percaya mereka juga bisa menjadi ahli pemasaran, MC, dan pebisnis yang tak kalah hebat dari teman-teman yang tidak memiliki disabilitas.” Kata Christy Natalia, Founder Union House sekaligus alumni pelatihan Speak Project

Selain penandatanganan MOU, Speak Project pun memperkenalkan Christy Natalia yang juga pendiri Union House sebagai Brand Ambassador Speak Project yang nantinya akan mempromosikan program-program sekaligus menjadi talent utama di Speak Talent.

Siapa bilang penyandang disabilitas hanya bisa minta dikasihani? Siapa bilang penyandang disabilitas hanya menyusahkan keluarga dan orang lain? Dua anggapan ini ternyata berhasil dipatahkan oleh Albert dan Taufik. Dua pria dewasa ini hadir di acara halal bihalal sekaligus sebagai bukti bahwa disabilitas bukan untuk dijauhi, apalagi mendapat stigma negatif. Albert dan Taufik adalah alumni Speak Disability Academy angkatan pertama. Dari yang tidak bisa berbicara di depan umum, kini mereka sudah memiliki profesi baru, yaitu MC profesional. Para tamu undangan sempat kaget karena sekilas mereka tidak tampak sebagai penyandang disabilitas, loh.

“Seringkali kami sebagai disabilitas hanya sebagai obyek. Tapi saat Speak Project melalui kak sandika memberikan kesempatan menjadi sebuah subyek bagi kami sendiri. Kami bsia berkarya, ternyata selama ini kami punya passion dalam MC. Sebelumnya kami tidak menyadari punya potensi, mana mungkin, sih dan nggak akan pernah. Tapi saat ditanya kenapa kok bisa, karena ada wadahnya, ada peluang dan kesempatannya. Seperti yang Kak Sandika bilang tadi, kami banyak, kok dibantu support dana, dll. Tapi apakah itu menjamin masa depan? Belum tentu karena skill itu lebih diperlukan. Terkadang orang demi mengasihani kita dengan cara, “ sorry ya, dan tangannya sambil memberi kami uang” dan bukan itu yang kita perlukan, kata Albert, penyandang disabilitas yang mana sebelum bergabung dengan Speak Project sempat bekerja di sebuah yayasan

Lain halnya dengan Taufik yang pernah menangani proyek tuna netra di tahun 2016 dan berakhir pada tahun 2019. Periode 2016 masih mencari jati diri melalui komunitas dan yayasan. Takdirlah yang akhirnya mempertemukannya dengan Speak Project serta memfokuskan diri menjadi freelancer MC.

“Saya sendiri lebih kurang sama seperti Albert ya, bahwa dari pribadi kita nggak nyangka ya punya passion sendiri. Dan lewat Speak Project ini saya sangat berterima kasih. Dan kalau tidak ada Speak Project belum tentu kami dikenal sebagai MC profesional. Dan melalui Seak Project ini saya selalu memberikan kalimat pencerahan pada orang awam bahwasananya, ini, loh kita yang sekarang bisa dipandang sebagai sibyek, bukan hanya sebagai subyek.”

SPEAK TALENT

Bukan hanya pelatihan, ternyata Speak Project pun mengeluarkan lini bisnis baru, yaitu Speak Talent. Lini yang nantinya menjadi sebuah agensi yang menyediakan jasa profesional dalam bidang komunikasi, sehingga memudahkan perusahaan, organisasi, atau individu menemukan pembawa acara atau moderator terbaik dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Platform ini juga hadir untuk memfasilitasi para alumni Speak Project yang memiliki talenta luar biasa untuk langsung mempraktikkan keahliannya. Speak Project berharap ke depannya Speak Talent bisa sukses menjadi marketplace jasa MC terbaik di Indonesia.

“Kami berharap Speak Project dan Speak Talent bisa bersama-sama berkontribusi untuk peningkatan SDM berkualitas di Indonesia melalui bidang komunikasi,” ungkap Sandika

Turut hadir dalam acara adalah bapak Imam Gunawan sebagai Asdep Kewirausahaan, Kemenpora, relasi kerja, para alumni Speak Project serta rekan media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here