“Dalam keadaan tergesa-gesa, Cinderella tak sempat mengambil sepatu kacanya lagi. Lonceng masih berdentang dua belas kali, sais menunggu di dalam keretanya dengan cemas. Namun begitu Cinderella naik, dentang yang terakhir menggema. Dalam sekejap mata, segalanya kembali ke asalnya. Kereta kembali menjadi labu, sais dan enam ekor kuda putihnya, kembali menjadi tikus dan enam tikus kecil. Sang pengawal menjadi kadal. Mereka semua berlarian masuk ke semak belukar. Dan Cinderella sendiri kembali mengenakan pakaiannya yang jelek”

Membaca potongan dongeng Cinderella di atas, ingatan saya seperti kembali ke masa kanak-kanak. Puteri Salju, Bawang merah dan bawang putih, Si Kancil, dll memenuhi ingatan saya tentang dongeng. Tinggal di kampung dengan fasilitas bacaan yang minim, membuat mata saya berbinar-binar ketika mendapat kiriman buku-buku dongeng dari Jakarta. Duduk di sudut rumah, membaca deretan kalimat dongeng membuat saya lupa waktu, bahkan lupa makan. Entahlah, ketika membaca dongeng imajinasi saya mendadak berubah 180 derajat menjadi tokoh utama.

Kekuatan imajinasi dari membaca kisah-kisah dongeng inilah yang ingin diteruskan oleh Nivea. Maka bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI, Nivea Sentuhan Ibu meluncurkan program ” Mendongeng untuk Indonesia” pada hari Selasa, 2 Mei 2019 di Ruang Layanan Anak lantai 7, Perpusnas Jl. Medan Merdeka Selatan No.11 Jakarta Pusat.

“Di Eropa dongeng merupakan satu kebutuhan dimana setiap orang belajar untuk menjadi pendongeng bagi anak-anaknya. Karena hubungan yang paling kuat dan fundamental adalah hubungan antara ibu dan anak lewat dongeng. Kami sangat mengapresiasi inisiatif NIVEA Sentuhan Ibu dalam menggelar kegiatan ‘Mendongeng untuk Indonesia’ yang sejalan dengan gerakan ‘Ibu Bangsa Membaca’, sebuah program yang dicanangkan oleh PERPUSNAS RI pada tahun 2018. Kami berharap, semakin banyak anggota masyarakat yang tertarik untuk membaca buku, dan hal tersebut dapat dimulai sejak dini di mana ibu membacakan dongeng untuk buah hatinya.” ” jelas Kepala Perpustakaan Nasional Bpk M. Syarif Bando saat membuka acara tersebut.

Bahkan seorang Psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, ” Membaca dongeng bukanlah suatu hal yang baru bagi kita. Dongeng identik dengan dunia anak. Tidak hanya menghibur, dongeng juga memiliki banyak manfaat lainnya. Kegiatan membaca dongeng dapat meningkatkan dan mempererat ikatan antara ibu dan anak, yang tentunya akan mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik itu perkembangan sosial emosi maupun kognitif. Tidak hanya itu, dongeng dapat mengembangkan daya imajinasi anak, memperkaya kosa kata dan meningkatkan keterampilan bahasa, melatih listening skill serta merangsang kreativitas,” jelas Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak.

Di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat dimana gawai mendadak berubah menjadi kebutuhan pokok masyarakat modern, memang ada sedikit bergesernya pola membaca dongeng untuk anak-anak. Orangtua yang sibuk bekerja, menyekolahkan dan menyerahkan pendidikan anak pada guru dan sekolah, pergi pagi pulang malam atau kesibukan berniaga terkadang membuat para orangtua kehabisan waktu dan tenaga untuk membacakan dongeng pada anaknya.

Sebagaimana dikatakan Ibu Woro Titi Haryanti selaku Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan mengatakan,”Buku ada, anak – anak ada, ibu – ibu ada, tapi kadang kadang yg tidak ada itu adalah waktunya ibu dengan anak. Maka dekatkan ibu dan anak salah satunya melalui buku. Enak, loh kalau kita cerita pada anak. Jangan sampai anak sibuk dengan gadgetnya, ibu sibuk ddengan gadgetnya. Jadi tidak ada bonding antara ibu dan anak. Jangan sampai kita kehilangan momen berharga. Karena ketika sudah SMP-SMA akan sulit bagi kita untuk meraih mereka karena lemahnya bonding pada waktu masih kanak-kanak. Bisa rekat tapi momen golden time-nya yang harus kita pegang, ajari anak -anak untuk memiliki mimpi. Mimpinya darimana? Ya dari membaca buku,”

Karena itulah program ” Mendongeng untuk Indonesia” yang digagas Nivea diharapkan mampu mengembalikan lagi kebiasaan mendongeng untuk anak. Perpusnas sudah menyediakan fasilitas lantai 7 ruang anak dimana anak-anak bisa didampingi ornagtua untuk membaca, berimajinasi dan melanglang buana e belahan dunia lain, hanya lewat buku. Dan Nivea berharap sesibuk apapun orantua – terutama ibu- diharpakan memiliki tekad kuat dan jadwal khusus untuk membacakan dongeng pada anak, terutama anak usia Golden Age. Pada saat yang sama juga diserahkan satu meja dan 300 eksemplar buku dongen ‘Pohon Impian” untuk menjadi salah satu koleksi Perpusnas dan disebarkan pada perpustakaan-perpustakaan di daerah.

Karena sejatinya tumbuh kembang anak dipengaruhi pada seberapa banyak kemampuan anak dalam mendayagunakan semua panca inderanya lewat buku. Bahkan membacakan dongeng pun ternyata dapat meningkatkan Bonding Time antara ibu dan anak, yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Maka Nivea dan Perpusnas berharap ” Mendongeng untuk Indonesia” menjadi salah satu cara agar mendongeng menjadi bonding time agar kualitas ibu dan anak makin bersinar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here